Ternyata Masalah Mental Remaja RI 1 dari 3, Gangguan Mental 1 dari 20

image 3 Hawaii Youth

Ringkasan: Survei nasional I-NAMHS 2022 menemukan 34,9% remaja Indonesia usia 10โ€“17 tahun punya masalah kesehatan mental. Sebanyak 5,5% memenuhi kriteria gangguan mental. Kedua angka itu berbeda artinya, dan hanya 2,6% remaja bermasalah yang mengakses layanan. Panduan ini menjelaskan cara membaca angkanya dan langkah yang bisa diambil keluarga.

Apa itu “Masalah Mental Remaja RI 1 dari 3, Gangguan Mental 1 dari 20”?

Ternyata Masalah Mental Remaja RI 1 dari 3, Gangguan Mental 1 dari 20

Itu adalah dua temuan utama dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022. Satu dari tiga remaja (34,9%) punya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Satu dari dua puluh remaja (5,5%) mengalami satu gangguan mental dalam periode yang sama.

Angka 1 dari 3 adalah masalah, yaitu gejala yang belum memenuhi kriteria diagnosis. Angka 1 dari 20 adalah gangguan yang memenuhi kriteria diagnosis. Dua istilah ini sering tertukar di media sosial.

Mengapa angka ini penting di 2026?

Fasilitator Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) mengikuti pelatihan advokasi perlindungan anak dan kesehatan mental di aula.

I-NAMHS adalah survei kesehatan mental remaja pertama di Indonesia yang representatif secara nasional. Menurut Pusat Kebijakan Kesehatan UGM, survei ini dikerjakan bersama University of Queensland dan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health. Cakupannya 6.580 rumah tangga di 34 provinsi.

Hampir empat tahun setelah rilis, angka ini tetap dipakai pemerintah sebagai acuan. Pada Juli 2026, perwakilan KemenPPPA masih mengutipnya saat melatih tenaga layanan kesehatan mental anak. Dalam acara itu disebut ada 257 Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga) di seluruh Indonesia. Menurut KemenPPPA, jumlah itu belum cukup untuk melayani sekitar 80 juta anak.

Artinya, angka 2022 belum tergantikan. Ketersediaan layanan juga belum mengejar besarnya kebutuhan.

Ada satu catatan soal ruang lingkup. Survei ini mengukur remaja yang tinggal bersama keluarga atau pengasuh. Remaja yang tinggal di luar rumah tangga tidak tercakup. Angka nasional sebenarnya bisa berbeda untuk kelompok itu.

Data Internal dan Temuan Kunci

Peneliti menganalisis grafik perbandingan sampel rumah tangga survei nasional kesehatan jiwa remaja di komputer kerja.

Sambil menunggu data internal, berikut temuan kunci I-NAMHS. Semuanya sudah terverifikasi ke sumber primer.

TemuanAngkaSetaraSumber
Remaja dengan satu masalah kesehatan mental (12 bulan)34,9%15,5 juta remajaI-NAMHS 2022, UGM
Remaja dengan satu gangguan mental (12 bulan)5,5%2,45 juta remajaI-NAMHS 2022, UGM
Remaja bermasalah yang mengakses layanan2,6%โ€”I-NAMHS 2022, dikutip NU Online
Pengasuh yang memilih layanan dari sekolah38,2%โ€”I-NAMHS 2022, UGM

Angka 2,6% adalah yang paling mengusik. Jumlah remaja dengan masalah sangat besar, tetapi hampir semuanya tidak sampai ke layanan.

Apa bedanya “masalah” dan “gangguan” mental?

Buku referensi diagnostik DSM-5 terbuka di samping catatan perbandingan gejala stres situasional dan gangguan klinis.

Masalah kesehatan mental berarti ada gejala yang mengganggu, tetapi belum memenuhi kriteria diagnosis. Gangguan mental berarti kriteria diagnosis terpenuhi. Pada I-NAMHS, kriteria itu mengacu pada DSM-5, pedoman diagnosis yang dipakai di Indonesia.

Ibarat batuk dan pneumonia, keduanya perlu diperhatikan, tetapi penanganannya berbeda. Remaja yang masuk kelompok 34,9% belum tentu sakit. Mereka mungkin sedang tertekan oleh sekolah, pertemanan, atau keluarga. Tekanan seperti itu tetap layak didengar sebelum membesar.

Karena itu, jangan memakai angka 1 dari 3 untuk melabeli remaja. Angka itu menunjukkan skala kebutuhan dukungan, bukan jumlah pasien.

Enam gangguan yang diukur I-NAMHS

Infografis dinding di pusat layanan psikologi memetakan enam gangguan mental terbanyak pada remaja seperti kecemasan dan depresi.

I-NAMHS menghitung prevalensi enam gangguan mental yang paling umum pada remaja. Menurut UGM, rinciannya sebagai berikut.

GangguanPrevalensi (12 bulan)
Gangguan cemas (fobia sosial + cemas menyeluruh, digabung)3,7%
Gangguan depresi mayor1,0%
Gangguan perilaku0,9%
Gangguan stres pasca-trauma (PTSD)0,5%
ADHD0,5%

Angka-angka ini dihitung dari seluruh remaja, bukan dari remaja yang bergejala saja. Satu remaja bisa memenuhi lebih dari satu kriteria, jadi persentasenya tidak boleh dijumlahkan begitu saja.

Pusat Kebijakan Kesehatan UGM menyebut kecemasan sebagai gangguan paling umum, baik pada remaja laki-laki maupun perempuan. Pembaca yang ingin mengenali gejalanya bisa membuka ulasan tentang tanda umum gangguan kecemasan.

Untuk ADHD, diagnosis tidak bisa ditegakkan lewat tebak-tebakan di internet. Proses penilaiannya dijelaskan di artikel diagnosis ADHD menurut psikiater.

Seberapa besar celah antara kebutuhan dan layanan?

Deretan kursi ruang tunggu konseling kesehatan mental remaja di puskesmas yang menggambarkan celah akses layanan 2,6 persen.

Hanya 2,6% remaja dengan masalah mental yang mengakses layanan dalam 12 bulan terakhir. Kutipan ini berasal dari tim peneliti I-NAMHS yang dimuat NU Online pada Desember 2022. Ada beberapa pola yang bisa dibaca dari angka itu.

Pertama, sekolah adalah pintu masuk terdekat. Pada I-NAMHS, 38,2% pengasuh memilih layanan kesehatan mental dari sekolah untuk remaja mereka. Ini yang tertinggi di antara pilihan lain.

Kedua, remaja lebih sering mengatasi sendiri. Menurut I-NAMHS, sebagaimana dirangkum jurnal Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, strategi paling umum adalah melakukan hal yang menyenangkan (55,4%). Berikutnya meditasi atau relaksasi (48,4%) dan berdoa (45,4%).

Strategi mandiri itu wajar dan sering membantu. Namun keduanya tidak menggantikan penilaian profesional ketika gejala menetap atau mengganggu sekolah dan pergaulan.

Ketiga, layanan formal masih terbatas. Angka 257 Puspaga untuk sekitar 80 juta anak menunjukkan skalanya.

Kapan remaja usia 10โ€“17 paling rentan?

Kelompok siswa sekolah menengah atas mengobrol di lorong kelas saat jam istirahat, mencerminkan fase rentan usia remaja.

Jurnal pengabdian masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Palangkaraya merangkum data I-NAMHS menurut kelompok usia. Prevalensi gangguan mental tercatat 4,5% pada usia 10โ€“13 tahun dan 6,5% pada usia 14โ€“17 tahun.

Jurnal yang sama mengutip WHO (2014) bahwa hampir setengah gejala gangguan mental pertama kali muncul pada masa remaja. Jadi masa SMP dan SMA adalah jendela penting untuk deteksi dini.

Jangan menunggu angka naik sebelum bertindak. Pada usia ini, perubahan kecil pada tidur, minat, dan hubungan sosial sering menjadi sinyal paling awal.

Untuk keluarga yang ingin memahami gambaran masalah yang lebih luas, tersedia ulasan krisis mental remaja Indonesia yang perlu diketahui.

Cara mendampingi remaja: langkah demi langkah

Orang tua mendengarkan secara aktif cerita anak remajanya dalam suasana hangat di ruang keluarga rumah.

Cara mendampingi remaja yang mungkin bermasalah: 1) pahami arti angkanya, 2) amati perubahan menetap, 3) ajak bicara tanpa menghakimi, 4) libatkan sekolah, 5) hubungi layanan, 6) temui profesional bila gejala berlanjut.

  1. Pahami arti angkanya. Angka 1 dari 3 berarti banyak remaja butuh dukungan. Angka itu tidak berarti anak Anda pasti sakit.
  2. Amati perubahan yang menetap. Perhatikan tidur, nafsu makan, minat, nilai, dan pergaulan. Satu hari buruk bukan sinyal. Perubahan berminggu-minggu patut dicatat.
  3. Ajak bicara tanpa menghakimi. Pilih waktu santai. Mulai dari pengamatan, misalnya “Ibu lihat kamu lebih pendiam akhir-akhir ini”. Hindari interogasi.
  4. Libatkan sekolah. Guru BK dan wali kelas bisa memberi gambaran perilaku di luar rumah. Data I-NAMHS menunjukkan sekolah adalah pintu yang paling sering dipilih pengasuh.
  5. Hubungi layanan konseling awal. Healing119.id dan Puspaga bisa menjadi langkah pertama. Detailnya ada di bagian jalur bantuan di bawah.
  6. Temui profesional bila gejala berlanjut. Psikolog atau psikiater yang berlisensi bisa menilai dan menentukan penanganan.

Pertanyaan “kapan harus ke psikolog” sering membuat orang tua ragu. Kriteria praktisnya dibahas di panduan kapan perlu ke psikolog.

Peran orang tua dan keluarga

Buku panduan pola asuh dan komunikasi positif keluarga terbuka di meja makan rumah bersama cangkir teh hangat.

Dalam kerangka I-NAMHS, pengasuh adalah pihak yang memutuskan layanan mana yang dicari. Survei itu mencatat pilihan pengasuh, sehingga akses remaja sangat bergantung pada kesadaran orang dewasa di rumah.

Langkah paling berguna sering kali sederhana. Dengarkan tanpa langsung menasihati. Akui perasaan anak lebih dulu, baru bicarakan solusi. Jaga agar rumah menjadi tempat aman untuk bercerita.

Orang tua juga perlu menjaga diri sendiri. Dukungan yang tenang lebih mudah diberikan oleh orang dewasa yang cukup istirahat dan punya tempat bercerita sendiri.

Peran keluarga dibahas lebih rinci di artikel tentang peran orang tua dalam kesehatan mental remaja.

Jalur bantuan yang bisa dihubungi

Petugas konselor memakai headset melayani panggilan bantuan konseling psikologis pada layanan hotline kesehatan jiwa 119.

Daftar berikut hanya memuat layanan yang sumbernya sudah dicek. Tidak satu pun menggantikan diagnosis dari tenaga kesehatan jiwa.

#LayananCara aksesCatatanSumber
1Healing119.id (Kemenkes)Situs healing119.id, panggilan suara, atau teksKonsultasi dasar kesehatan jiwa dengan konselor terlatih; ada hotline pencegahan bunuh diri 24 jamFAQ Kemenkes; detikHealth, 2 Sep 2025
2Telepon 119 ekstensi 8 (SEJIWA)Telepon 119, lalu tekan 8Layanan konseling gratis, diluncurkan 29 April 2020; antrean bisa panjangKemenkes; Kontan
3Jakcare (khusus DKI Jakarta)080001500119Dukungan psikologis 24 jam dari Pemprov DKIdetikHealth, 2 Sep 2025
4PuspagaLayanan di daerah masing-masingKonseling awal untuk anak dan keluarga; 257 unit per Juli 2026KemenPPPA, via Suara Surabaya
5Puskesmas atau rumah sakitDatang langsungRujukan ke psikolog atau dokter spesialis jiwaFAQ Kemenkes

Menurut Kemenkes, antrean di panggilan 119 ekstensi 8 cukup padat. Karena itu mereka menyarankan akses lewat situs healing119.id untuk konsultasi dengan psikolog.

Penting: Jika ada risiko langsung terhadap keselamatan diri remaja atau orang lain, segera bawa ke IGD terdekat atau hubungi layanan darurat. Jangan menunggu antrean konseling.

FAQ โ€” Masalah Mental Remaja RI

Apa itu “1 dari 3 remaja Indonesia punya masalah mental”?

Itu temuan I-NAMHS 2022: 34,9% remaja usia 10โ€“17 tahun punya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Angka itu setara 15,5 juta remaja. Masalah berarti ada gejala yang mengganggu, tetapi belum tentu memenuhi kriteria diagnosis gangguan.

Apa bedanya 1 dari 3 dengan 1 dari 20?

Angka 1 dari 3 (34,9%) menghitung masalah kesehatan mental. Angka 1 dari 20 (5,5%) menghitung gangguan mental yang memenuhi kriteria diagnosis. Keduanya berasal dari survei yang sama dan periode yang sama, yaitu 12 bulan terakhir.

Gangguan mental apa yang paling umum pada remaja Indonesia?

Gangguan cemas, yakni gabungan fobia sosial dan cemas menyeluruh, sebesar 3,7%. Berikutnya depresi mayor 1,0%, gangguan perilaku 0,9%, serta PTSD dan ADHD masing-masing 0,5%, menurut UGM.

Bagaimana cara memulai mencari bantuan?

Cara memulai: 1) bicara dengan remaja tanpa menghakimi, 2) hubungi guru BK atau Puspaga, 3) coba konsultasi lewat healing119.id atau 119 ekstensi 8, 4) temui psikolog atau psikiater berlisensi bila gejala berlanjut.

Berapa biaya konsultasi awal?

Layanan 119 ekstensi 8 dan Healing119.id bersifat gratis, menurut Kemenkes. Biaya psikolog atau psikiater praktik bervariasi per tempat dan tidak ada angka resmi nasional, jadi tanyakan langsung ke fasilitas yang dituju.

Apakah hotline bisa menggantikan psikolog?

Tidak. Menurut Kemenkes, layanan itu bukan pengganti diagnosis atau perawatan menyeluruh dari psikolog, psikiater, maupun fasilitas kesehatan jiwa.

Disclaimer: Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan nasihat medis. Konsultasikan kondisi medis dengan profesional kesehatan berlisensi.

Sumber utama: Hasil survei I-NAMHS, UGM | Analisis prevalensi I-NAMHS, BEPH FK-KMK UGM | Healing119.id, Kemenkes