Selalu Datang Telat Pas Janjian? Ini Ciri Kepribadian dan Kebiasaan yang Sering Ada di Baliknya

Telat

“Datang terlambat tidak selalu berarti seseorang tidak menghargai waktu. Kadang, masalahnya justru terletak pada cara seseorang memperkirakan waktu, menyusun prioritas, dan mengelola kebiasaan sehari-hari.”

hawaiiycc – Punya teman yang kalau janjian pukul 19.00, pukul 19.15 masih mengirim chat, “OTW ya,” padahal ternyata baru selesai mandi? Situasi seperti ini mungkin sudah terlalu familiar. Bahkan dalam satu circle pertemanan, biasanya ada satu orang yang membuat anggota lain otomatis memberikan “jam palsu”. Acara mulai pukul 20.00, tetapi khusus dia diberi tahu pukul 19.30 supaya kemungkinan datang tepat waktunya sedikit lebih besar.

Kebiasaan selalu datang telat memang sering membuat orang lain kesal. Namun, apakah orang yang sering terlambat mempunyai tipe kepribadian tertentu? Jawabannya tidak sesederhana menyebut mereka pemalas, tidak disiplin atau tidak menghargai orang lain. Penelitian psikologi menunjukkan persepsi terhadap waktu, karakteristik kepribadian, kemampuan mengatur aktivitas, sampai kecenderungan multitasking dapat berhubungan dengan ketepatan waktu seseorang.

Artinya, keterlambatan bisa muncul dari kombinasi personality dan habit. Ada orang yang terlalu optimistis terhadap waktu, ada yang suka memasukkan terlalu banyak aktivitas sebelum berangkat, sementara sebagian lainnya memang mempunyai kebiasaan menunda. Jadi, sebelum memberikan label kepada teman yang selalu menjadi “last person to arrive”, ada beberapa karakter dan pola perilaku yang menarik untuk dipahami.

Terlalu Optimistis Menghitung Waktu

telat Hawaii Youth

Salah satu ciri yang cukup sering terlihat pada orang yang terlambat adalah terlalu optimistis ketika memperkirakan durasi suatu aktivitas. Dalam psikologi terdapat fenomena yang dikenal sebagai planning fallacy, yaitu kecenderungan meremehkan waktu yang sebenarnya diperlukan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan meskipun pengalaman sebelumnya menunjukkan pekerjaan tersebut biasanya membutuhkan waktu lebih lama.

Konsep planning fallacy diperkenalkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky. Penelitian berikutnya menunjukkan manusia memang dapat membuat estimasi waktu yang terlalu optimistis ketika merencanakan tugas di masa depan.

Contohnya sangat sederhana. Seseorang tahu perjalanan menuju lokasi pertemuan biasanya membutuhkan 40 menit, tetapi dia tetap berpikir, “Kalau jalanan lancar paling 25 menit.”

Masalahnya, estimasi tersebut tidak memasukkan waktu mencari parkir, menunggu lift, berjalan dari parkiran, mengisi bensin atau kemungkinan kemacetan.

Buat orang seperti ini, terlambat bukan selalu karena sengaja santai. Mereka genuinely merasa masih memiliki cukup waktu.

Punya Hubungan yang Terlalu Santai dengan Deadline

Ada orang yang merasa nyaman apabila semuanya sudah selesai jauh sebelum deadline. Sebaliknya, ada juga yang baru merasa “hidup” ketika waktu mulai mepet.

Karakter kedua biasanya lebih tolerant terhadap tekanan waktu. Mereka tidak terlalu anxious ketika melihat jam terus berjalan karena sudah terbiasa mengerjakan sesuatu pada menit-menit terakhir.

Dalam kehidupan sehari-hari, pola tersebut bisa terbawa ketika membuat janji.

Kalau harus bertemu teman pukul 18.00, orang yang sangat menghargai buffer time mungkin sudah bersiap sejak pukul 16.30. Sementara orang yang lebih relaxed terhadap waktu baru mulai memilih pakaian pukul 17.15 karena merasa masih mempunyai 45 menit.

Technically memang masih ada waktu. Realistically, belum tentu cukup.

Sering Menunda sampai Menit Terakhir

Procrastination atau kebiasaan menunda juga bisa menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang sulit tepat waktu. Namun, procrastination sendiri bukan sekadar persoalan malas.

Penelitian psikologi mengenai procrastination menunjukkan perilaku menunda dapat berhubungan dengan self-regulation atau kemampuan seseorang mengatur perilaku dan tindakan agar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Misalnya, seseorang sebenarnya sudah mengetahui harus berangkat pukul 17.00. Tetapi pukul 16.45 dia berpikir masih sempat rebahan lima menit, membalas chat, melihat satu video atau menyelesaikan satu pekerjaan kecil.

Lima menit berubah menjadi 15 menit.

Setelah itu barulah muncul mode panic: mandi cepat, mencari pakaian, mencari kunci kendaraan, lalu mengirim pesan legendaris, “Sorry agak telat dikit.”

Padahal keterlambatan sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum orang tersebut meninggalkan rumah.

Suka Memasukkan Terlalu Banyak Aktivitas

Orang yang sering telat juga bisa mempunyai kecenderungan membuat jadwal terlalu ambitious.

Sebelum bertemu teman pukul 19.00, misalnya, dia ingin menyelesaikan pekerjaan sampai pukul 17.30, mampir membeli sesuatu, pulang mandi, mengambil paket, kemudian menuju tempat pertemuan.

Secara teori semuanya mungkin dilakukan.

Masalahnya, kehidupan nyata jarang berjalan seperti spreadsheet.

Satu pekerjaan mundur sepuluh menit saja bisa menghasilkan domino effect terhadap aktivitas berikutnya. Ketika semua kegiatan disusun tanpa buffer, sedikit gangguan langsung membuat jadwal berantakan.

Orang seperti ini sebenarnya bisa sangat produktif. Namun, keinginan memaksimalkan setiap menit justru membuat mereka lebih rentan terlambat.

Mudah Terdistraksi Sebelum Berangkat

Pernah berniat hanya membuka Instagram lima menit sebelum mandi, tetapi tiba-tiba sudah lewat setengah jam?

Distraksi menjadi musuh besar punctuality.

Smartphone membuat masalah ini semakin relevant karena satu perangkat berisi hampir semua bentuk distraksi. Ada media sosial, video pendek, game, marketplace, berita sampai group chat.

Seseorang mungkin sebenarnya sudah siap berangkat. Namun, ketika masih mempunyai waktu 15 menit, dia merasa aman membuka smartphone.

Lalu attention-nya berpindah.

Ketika kembali melihat jam, buffer 15 menit sudah habis dan waktu keberangkatan sudah lewat.

Karena itulah kemampuan mengelola perhatian sebenarnya mempunyai peran dalam manajemen waktu. Bukan cuma soal mempunyai jadwal, tetapi juga kemampuan mempertahankan tindakan sesuai jadwal tersebut.

Lebih Spontan dan Fleksibel terhadap Waktu

Beberapa penelitian kepribadian menemukan hubungan antara sifat conscientiousness dengan punctuality. Conscientiousness dalam model Big Five menggambarkan kecenderungan seseorang untuk terorganisasi, bertanggung jawab, berhati-hati dan berorientasi terhadap pencapaian.

Orang dengan conscientiousness tinggi cenderung lebih memperhatikan perencanaan dan keteraturan. Karena itu, secara umum mereka juga lebih mungkin mempersiapkan perjalanan dan mempertimbangkan waktu dengan lebih sistematis.

Namun, ini bukan berarti orang yang sering telat otomatis mempunyai conscientiousness rendah.

Kepribadian manusia jauh lebih complicated daripada satu kebiasaan.

Seseorang bisa sangat disciplined dalam pekerjaan tetapi relaxed ketika bertemu teman. Bisa juga sangat tepat waktu ketika naik pesawat tetapi selalu terlambat datang ke acara keluarga.

Context matters.

Kadang Merasa “Telat Sedikit Nggak Apa-Apa”

Ada pula persoalan mengenai norma sosial.

Tidak semua orang mempunyai definisi “tepat waktu” yang sama.

Bagi seseorang, janji pukul 19.00 berarti sudah duduk di lokasi pukul 18.55. Bagi orang lain, datang pukul 19.10 masih dianggap on time karena keterlambatannya “cuma sepuluh menit”.

Perbedaan standar tersebut dapat menyebabkan friction dalam hubungan sosial.

Orang yang sangat punctual merasa waktunya tidak dihargai, sementara pihak yang terlambat genuinely tidak merasa melakukan pelanggaran besar.

Hal ini biasanya semakin terlihat pada janji informal. Orang yang tidak pernah terlambat menghadiri interview kerja mungkin justru consistently terlambat ketika nongkrong.

Kenapa?

Konsekuensinya berbeda.

Interview mempunyai risiko kehilangan kesempatan kerja, sedangkan telat nongkrong mungkin hanya mendapatkan chat, “Mana nih?”

Bisa Jadi Terlalu Percaya Diri dengan Kemampuan Multitasking

Karakter lain yang bisa muncul adalah merasa mampu mengerjakan banyak hal sekaligus.

Sebelum berangkat, seseorang berpikir masih sempat mengirim email sambil sarapan, membalas pesan sambil memilih pakaian, kemudian melakukan panggilan telepon selama perjalanan.

Masalahnya, multitasking tidak selalu membuat pekerjaan lebih cepat.

Ketika perhatian berpindah-pindah antara beberapa aktivitas, seseorang dapat kehilangan waktu dalam proses switching tersebut. Aktivitas yang diperkirakan membutuhkan sepuluh menit akhirnya selesai dalam 25 menit.

Akibatnya, jadwal keberangkatan kembali menjadi korban.

Apakah Orang yang Selalu Telat Berarti Egois?

Ini mungkin pertanyaan yang paling controversial.

Kalau seseorang berulang kali datang terlambat, apakah berarti dia tidak menghargai waktu orang lain?

Jawabannya tergantung konteks.

Keterlambatan yang terjadi sesekali tentu sangat manusiawi. Kemacetan, kendaraan bermasalah, pekerjaan mendadak atau situasi keluarga bisa membuat siapa pun terlambat.

Namun, apabila seseorang consistently terlambat, sudah mengetahui kebiasaan tersebut mengganggu orang lain, tetapi tidak pernah melakukan usaha untuk memperbaikinya, persoalannya mulai berbeda.

Pada titik tersebut, dampak perilakunya terhadap orang lain memang layak diperhatikan.

Misalnya, lima orang menunggu satu orang selama 30 menit. Dari perspektif orang yang terlambat, mungkin dia hanya kehilangan setengah jam. Tetapi secara kolektif, lima orang lainnya telah menghabiskan waktu menunggu.

Jadi, intention dan impact harus dibedakan.

Seseorang mungkin tidak berniat disrespectful, tetapi kebiasaannya tetap dapat memberikan dampak yang dianggap tidak menghargai orang lain.

Jangan Langsung Mendiagnosis Orang dari Kebiasaan Telat

Ada satu hal penting ketika membahas personality dan keterlambatan: jangan menggunakan satu perilaku untuk melakukan diagnosis psikologis.

Internet sering membuat segala sesuatu terdengar seperti diagnosis.

Sering terlambat disebut ADHD. Suka sendiri disebut introvert. Sangat rapi disebut OCD. Mood berubah langsung disebut bipolar.

Padahal kondisi psikologis dan medis tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan satu kebiasaan.

Kesulitan mengatur waktu memang dapat muncul pada kondisi tertentu, termasuk ADHD, tetapi keterlambatan saja sama sekali tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang mempunyai ADHD atau kondisi lainnya.

Diagnosis membutuhkan evaluasi profesional dengan melihat berbagai gejala, riwayat, durasi dan pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari.

Jadi, teman yang telat satu jam pas nongkrong belum tentu mempunyai masalah psikologis. Bisa saja memang dia terlalu santai.

Orang yang Sering Telat Sebenarnya Bisa Berubah

Kabar baiknya, punctuality bukan sesuatu yang sepenuhnya fixed.

Kebiasaan dapat diperbaiki dengan membuat sistem yang lebih realistic.

Orang yang selalu meremehkan waktu perjalanan, misalnya, bisa mulai menggunakan data perjalanan sebelumnya daripada mengikuti feeling. Kalau perjalanan rata-rata membutuhkan 40 menit, jangan membuat rencana berdasarkan kemungkinan terbaik 25 menit.

Buffer juga penting.

Kalau Google Maps mengatakan perjalanan membutuhkan 30 menit, memberikan tambahan waktu untuk parkir, berjalan kaki atau kemungkinan kemacetan dapat mengurangi risiko terlambat.

Hal sederhana lainnya adalah menentukan waktu berangkat, bukan hanya waktu acara.

Banyak orang hanya mengingat, “Janjian jam tujuh.”

Padahal informasi yang lebih actionable adalah, “Jam enam lewat sepuluh saya harus sudah keluar rumah.”

Perubahan kecil seperti ini membuat deadline terasa lebih konkret.

Jangan Sampai “OTW” Artinya Baru Cari Handuk

Pada akhirnya, orang yang selalu datang telat ketika janjian tidak bisa dimasukkan ke satu kotak kepribadian.

Sebagian memang lebih spontan, sebagian terlalu optimistis memperkirakan waktu, sebagian mudah terdistraksi, sebagian suka procrastinate, sementara yang lainnya mempunyai standar berbeda tentang apa yang dianggap terlambat.

Karakter seperti conscientiousness dan kemampuan self-regulation juga dapat berperan, tetapi tidak ada rumus sederhana bahwa “orang telat pasti mempunyai kepribadian X”.

Yang lebih meaningful adalah melihat polanya.

Apakah keterlambatan hanya terjadi sesekali atau hampir setiap janji? Apakah orang tersebut berusaha memperbaikinya? Apakah dia memberi kabar ketika terlambat? Dan yang paling penting, apakah dia memahami bahwa waktunya bukan satu-satunya waktu yang berharga?

Karena terlambat lima menit sekali-sekali adalah kehidupan.

Tetapi kalau setiap janjian pukul tujuh seseorang baru mandi pukul tujuh, mungkin masalahnya bukan lagi macet.

Masalahnya memang ada di time management.

Dan untuk teman-temannya, mungkin sudah waktunya berhenti percaya ketika chat “OTW” dikirim dari kamar mandi.

Referensi

Buehler, R., Griffin, D., & Ross, M. “Exploring the Planning Fallacy: Why People Underestimate Their Task Completion Times.” Journal of Personality and Social Psychology, American Psychological Association.

Steel, P. “The Nature of Procrastination: A Meta-Analytic and Theoretical Review of Quintessential Self-Regulatory Failure.” Psychological Bulletin, American Psychological Association.

Back, M. D., Schmukle, S. C., & Egloff, B. “Predicting Actual Behavior From the Explicit and Implicit Self-Concept of Personality.” Journal of Personality and Social Psychology.

American Psychological Association (APA), berbagai publikasi mengenai procrastination, self-regulation, personality, dan time management.

Encyclopaedia Britannica, Big Five Personality Traits, pembahasan mengenai conscientiousness sebagai dimensi kepribadian yang berkaitan dengan keteraturan, tanggung jawab dan goal-directed behavior.