hawaiiycc – Pintu rumah baru dibuka beberapa sentimeter ketika suara kaki kecil sudah terdengar dari dalam.
Seekor kucing berlari mendekat. Ekornya berdiri. Ia mengeong seolah pemilik rumah telah menghilang selama tiga tahun, padahal baru berangkat kerja sejak pagi.
Di rumah lain, seekor anjing sudah menunggu di dekat pintu.
Tidak ada pertanyaan soal pekerjaan.
Tidak peduli berapa banyak pesan yang belum dibalas.
Tidak tahu apa itu cicilan, target kantor atau rapat Senin pagi.
Yang ia tahu hanya satu.
Manusia kesayangannya akhirnya pulang.
Interaksi sederhana semacam ini mungkin menjelaskan mengapa banyak pemilik hewan merasa rumah menjadi berbeda setelah mempunyai anabul.
Istilah anabul, singkatan populer dari “anak bulu”, biasanya digunakan untuk menyebut hewan peliharaan berbulu seperti kucing dan anjing.
Bagi sebagian orang, mereka sekadar hewan peliharaan.
Bagi yang lain, posisinya sudah seperti anggota keluarga.
Lalu muncul pertanyaan menarik: apakah pelihara anabul benar-benar bisa mengurangi stres?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana “iya karena kucing lucu”.
Penelitian mengenai hubungan manusia dan hewan menunjukkan bahwa interaksi dengan hewan peliharaan memang dapat berkaitan dengan respons stres, dukungan sosial, aktivitas fisik, rasa kesepian dan kesejahteraan psikologis.
Namun hasil penelitian juga tidak selalu seragam.
Memelihara anabul bukan obat ajaib untuk semua persoalan kesehatan mental.
Dalam kondisi tertentu, hewan peliharaan malah dapat membawa stres baru.
Kenapa Pelihara Anabul Bisa Membantu Mengurangi Stres?
Salah satu hal menarik dari hubungan manusia dengan hewan adalah interaksinya sering kali sangat sederhana.
Anda tidak perlu menceritakan seluruh masalah.
Seekor kucing tidak membutuhkan presentasi PowerPoint mengenai alasan Anda sedang tertekan.
Anjing juga tidak meminta penjelasan mengapa hari ini Anda malas berbicara.
Kadang interaksinya hanya berupa duduk bersama.
Mengelus bulu.
Bermain beberapa menit.
Memberikan makanan.
Atau berjalan keluar rumah.
Namun aktivitas sederhana tersebut dapat memengaruhi kondisi psikologis maupun fisiologis manusia.
National Institutes of Health (NIH) menjelaskan bahwa penelitian mengenai interaksi manusia dan hewan menemukan sejumlah kemungkinan manfaat, mulai dari penurunan kadar kortisol hingga pengaruh terhadap tekanan darah, rasa kesepian, suasana hati dan dukungan sosial.
Kortisol sendiri merupakan salah satu hormon yang berkaitan dengan respons tubuh terhadap stres.
Artinya, rasa nyaman ketika mengelus anabul bukan sepenuhnya sesuatu yang “hanya ada di kepala”.
Tubuh manusia juga dapat memberikan respons.
Mengelus Anabul Bisa Membuat Tubuh Lebih Tenang
Ada sesuatu yang repetitif ketika seseorang mengelus kucing atau anjing.
Tangan bergerak perlahan.
Hewan berada di dekat kita.
Perhatian untuk beberapa saat berpindah dari persoalan yang memenuhi kepala menuju sesuatu yang ada tepat di depan mata.
Dalam sejumlah penelitian, interaksi dengan hewan dikaitkan dengan perubahan indikator fisiologis stres.
NIH menyebut penelitian menunjukkan interaksi dengan hewan dapat membantu menurunkan kadar kortisol dan tekanan darah.
Tetapi penelitian di bidang ini cukup beragam.
Efeknya dapat berbeda berdasarkan jenis interaksi, kondisi orang yang diteliti, hubungan dengan hewan, dan metode penelitian.
Karena itu kalimat yang lebih tepat bukan:
“Punya kucing pasti membuat hormon stres turun.”
Melainkan:
Interaksi positif dengan hewan dapat membantu sebagian orang mengalami respons stres yang lebih rendah.
Perbedaannya terlihat kecil, tetapi secara ilmiah sangat penting.
Anabul Memaksa Kita Berhenti Sebentar
Stres modern sering mempunyai karakter yang aneh.
Tubuh berada di rumah.
Pikiran masih berada di kantor.
Laptop sudah ditutup, tetapi kepala masih memikirkan pekerjaan.
Kemudian seekor kucing naik ke meja dan duduk tepat di depan layar.
Mengganggu?
Tentu.
Tetapi gangguan kecil itu juga dapat menjadi semacam tombol pause.
Kita berhenti.
Perhatian berpindah.
Interaksi dengan hewan memberikan aktivitas yang terjadi di saat sekarang.
Ketika bermain menggunakan tongkat bulu dengan kucing, perhatian tertuju pada gerakannya.
Ketika mengajak anjing berjalan, kita harus memperhatikan lingkungan.
Ketika membersihkan kandang atau menyiapkan makanan, ada pekerjaan konkret yang perlu dilakukan.
Rutinitas seperti ini dapat memecah siklus pikiran yang terus berputar mengenai sumber stres.
Mereka Memberikan Rutinitas ketika Hidup Sedang Berantakan
Anabul mempunyai satu karakter yang terkadang menyebalkan tetapi sebenarnya berguna.
Mereka tidak terlalu peduli dengan jadwal pemiliknya.
Jam makan tetap jam makan.
Anjing tetap perlu diajak keluar.
Kotak pasir tetap harus dibersihkan.
Air minum tetap perlu diganti.
Rutinitas tersebut menciptakan struktur.
Ketika seseorang sedang mengalami masa sulit, kegiatan sehari-hari kadang ikut berantakan.
Bangun semakin siang.
Makan tidak teratur.
Aktivitas fisik berkurang.
Hari terasa tidak mempunyai pola.
Kehadiran hewan membuat sebagian rutinitas tetap harus berjalan.
Ada makhluk lain yang bergantung kepada kita.
Hal tersebut dapat memberikan rasa tanggung jawab sekaligus tujuan.
Anjing Punya Satu Keunggulan: Membuat Pemiliknya Keluar Rumah
Untuk pemilik anjing, manfaat potensial lainnya datang dari aktivitas yang sangat biasa.
Jalan kaki.
Anjing membutuhkan aktivitas.
Akibatnya pemilik juga ikut bergerak.
American Heart Association mencatat kepemilikan anjing sering dikaitkan dengan aktivitas fisik yang lebih tinggi, terutama karena kegiatan berjalan bersama anjing.
Aktivitas fisik sendiri mempunyai hubungan kuat dengan kesehatan tubuh dan kesejahteraan mental.
Jadi manfaatnya bisa datang melalui jalur tidak langsung.
Bukan semata-mata karena anjing mempunyai “kekuatan anti-stres”.
Anjing membuat manusia bangun dari sofa.
Manusia berjalan keluar.
Tubuh bergerak.
Terkena udara luar.
Bertemu lingkungan sekitar.
Kadang bertemu pemilik anjing lain.
Rangkaian sederhana tersebut dapat menghasilkan manfaat yang lebih luas.
Kucing Punya Cara Berbeda
Kucing tentu tidak akan selalu bersedia diajak jogging keliling kompleks.
Kalau dipaksa, stres mungkin justru berpindah dari pemilik kepada kucing.
Tetapi kucing menawarkan bentuk interaksi yang berbeda.
Banyak kucing nyaman berada dekat manusia tanpa membutuhkan aktivitas intens.
Mereka tidur di sofa.
Duduk di sebelah pemilik.
Naik ke pangkuan.
Atau sekadar berada dalam ruangan yang sama.
Bagi orang yang tinggal sendirian, kehadiran tersebut bisa terasa sangat berarti.
Rumah yang tadinya benar-benar sunyi sekarang mempunyai suara.
Ada langkah kaki.
Ada mangkuk makanan yang perlu diisi.
Ada makhluk yang muncul ketika pintu dibuka.
Secara objektif rumah mungkin masih dihuni satu manusia.
Secara emosional, rasanya tidak lagi benar-benar sendirian.
Anabul Bisa Membantu Mengurangi Rasa Kesepian
Kesepian menjadi salah satu bagian penting dalam penelitian hubungan manusia dan hewan.
Hewan peliharaan dapat memberikan companionship atau rasa ditemani.
Namun sekali lagi, hasil penelitian tidak selalu menunjukkan efek yang sama pada setiap orang.
American Psychiatric Association dalam surveinya menemukan banyak pemilik hewan merasa hewan peliharaan memberikan dampak positif terhadap kesehatan mental mereka.
Pemilik menyebut manfaat seperti memberikan companionship, cinta tanpa syarat, dukungan, ketenangan dan membantu mengurangi stres atau kecemasan.
Tetapi survei mengenai persepsi pemilik tidak sama dengan bukti bahwa hewan peliharaan secara klinis menyembuhkan gangguan mental.
Keduanya harus dibedakan.
Yang dapat kita katakan adalah hubungan dengan hewan bagi banyak orang memang menjadi salah satu sumber dukungan emosional.
Kenapa Bicara dengan Anabul Kadang Terasa Lega?
Ada orang yang berbicara dengan kucingnya.
“Capek banget hari ini.”
Kucingnya mungkin hanya menatap.
Kemudian menjilat kaki.
Percakapan selesai.
Aneh?
Sebenarnya tidak terlalu.
Berbicara merupakan salah satu cara manusia mengekspresikan pikiran dan emosi.
Hewan tidak memahami kompleksitas bahasa manusia seperti manusia lain, tetapi keberadaannya memberikan ruang tanpa respons sosial yang menghakimi.
Tidak ada interupsi.
Tidak ada nasihat yang tidak diminta.
Tidak ada kalimat, “Kamu kurang bersyukur.”
Tidak ada kompetisi mengenai siapa yang mempunyai masalah lebih berat.
Bagi sebagian orang, sifat hubungan seperti ini membuat interaksi dengan hewan terasa aman.
Namun anabul tetap tidak dapat menggantikan hubungan manusia sepenuhnya.
Ketika seseorang membutuhkan bantuan psikologis profesional, kucing paling penyayang sekalipun tidak dapat melakukan diagnosis atau terapi.
Ada Hubungan Biologis yang Menarik antara Manusia dan Hewan
Penelitian hubungan manusia-hewan juga sering membahas oksitosin.
Hormon ini berhubungan dengan berbagai proses sosial, ikatan dan interaksi.
Salah satu penelitian terkenal yang diterbitkan di Science pada 2015 menemukan adanya hubungan antara tatapan manusia dan anjing dengan peningkatan oksitosin.
Peneliti menggambarkannya sebagai semacam oxytocin-gaze positive loop.
Temuan tersebut menarik karena menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan anjing mungkin memanfaatkan sebagian mekanisme biologis yang juga berperan dalam ikatan sosial.
Namun jangan mengubahnya menjadi klaim internet seperti:
“Tatap anjing lima menit, stres langsung hilang.”
Biologi manusia jauh lebih kompleks.
Penelitian tersebut memberikan petunjuk mengenai bagaimana ikatan manusia dan anjing dapat terbentuk, bukan resep medis.
Kenapa Video Kucing Saja Kadang Membuat Mood Lebih Baik?
Internet secara tidak sengaja menjalankan eksperimen terbesar dalam sejarah mengenai satu pertanyaan:
Mengapa manusia sangat suka melihat kucing melakukan hal bodoh?
Kucing jatuh dari sofa.
Kucing masuk kardus terlalu kecil.
Kucing takut mentimun.
Kucing berlari pukul tiga pagi tanpa alasan yang dapat dipahami manusia.
Konten hewan memberikan distraksi emosional yang ringan.
Sebuah studi dari Indiana University yang diterbitkan dalam Computers in Human Behavior pernah meneliti pengalaman menonton video kucing secara online dan menemukan peningkatan emosi positif serta penurunan emosi negatif pada partisipan setelah menontonnya.
Tentu menonton video kucing tidak sama dengan memelihara kucing.
Tetapi temuan tersebut memperlihatkan betapa mudahnya interaksi bahkan secara tidak langsung dengan hewan memengaruhi suasana hati.
Tetapi Pelihara Anabul Tidak Selalu Mengurangi Stres
Sekarang kita sampai pada bagian yang sering hilang dari artikel mengenai manfaat hewan peliharaan.
Anabul juga bisa membuat stres.
Sangat stres.
Kucing sakit tengah malam.
Anjing tiba-tiba tidak mau makan.
Tagihan dokter hewan datang.
Sofa dicakar.
Karpet terkena urine.
Tetangga protes karena anjing menggonggong.
Anda ingin liburan tetapi tidak tahu siapa yang menjaga.
Makanan habis saat kondisi keuangan sedang sempit.
Hewan yang sudah menemani bertahun-tahun kemudian menua dan membutuhkan perawatan lebih intensif.
Semua itu nyata.
Memelihara hewan adalah tanggung jawab jangka panjang.
Biaya Memelihara Anabul Bisa Menjadi Sumber Stres Baru
Makanan hanyalah permulaan.
Ada vaksinasi.
Sterilisasi.
Obat kutu.
Pemeriksaan dokter hewan.
Pasir untuk kucing.
Grooming untuk hewan tertentu.
Mainan.
Carrier.
Perlengkapan kebersihan.
Dan biaya medis yang terkadang datang tanpa peringatan.
Seekor hewan yang mengalami kecelakaan atau penyakit serius dapat membutuhkan biaya perawatan besar.
Jika seseorang memelihara anabul dengan kondisi finansial yang belum siap, sesuatu yang awalnya diharapkan menjadi sumber kebahagiaan justru bisa menambah tekanan.
Karena itu keputusan adopsi sebaiknya tidak dibuat hanya karena sedang stres.
Hewan bukan alat terapi sekali pakai.
Mereka makhluk hidup yang mungkin tinggal bersama kita selama belasan tahun.
Kehilangan Anabul Juga Bisa Sangat Menyakitkan
Ada harga emosional lain yang jarang dibicarakan ketika seseorang mulai memelihara hewan.
Umur mereka biasanya lebih pendek daripada manusia.
Suatu hari pemilik harus menghadapi kemungkinan kehilangan.
Bagi orang yang sudah menganggap anabul sebagai anggota keluarga, kematian hewan dapat menghasilkan duka yang sangat nyata.
American Veterinary Medical Association mengakui adanya grief atau rasa kehilangan mendalam setelah kematian hewan peliharaan dan menyediakan sumber daya mengenai pet loss.
Ini merupakan sisi lain dari ikatan emosional.
Semakin berarti hubungan tersebut, semakin besar pula kehilangan yang mungkin dirasakan.
Namun rasa sakit ketika kehilangan tidak membuat hubungan sebelumnya menjadi tidak berharga.
Justru rasa kehilangan menunjukkan seberapa penting hubungan tersebut bagi pemiliknya.
Jangan Adopsi Anabul Hanya karena Sedang Sedih
Kalimat “pelihara kucing supaya tidak stres” terdengar sederhana.
Tetapi keputusan adopsi membutuhkan pertimbangan lebih panjang.
Apakah tempat tinggal mengizinkan hewan?
Apakah anggota keluarga mempunyai alergi?
Apakah ada waktu untuk merawatnya?
Apakah biaya makanan dan kesehatan dapat ditanggung?
Siapa yang menjaga ketika bepergian?
Apakah gaya hidup cocok dengan jenis hewan yang ingin dipelihara?
Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada memilih warna bulu.
Seseorang yang sering bepergian mungkin mempunyai kebutuhan berbeda dari orang yang bekerja dari rumah.
Anjing berenergi tinggi mempunyai kebutuhan berbeda dari kucing dewasa yang tenang.
Hewan juga mempunyai kepribadian.
Tidak semua kucing suka dipeluk.
Tidak semua anjing tenang.
Dan tidak semua manusia cocok menjadi pemilik hewan.
Tidak Harus Memiliki Anabul untuk Mendapatkan Manfaat Interaksi dengan Hewan
Ada kabar baik bagi orang yang menyukai hewan tetapi belum siap memeliharanya.
Interaksi dengan hewan tidak harus dimulai dengan adopsi.
Seseorang dapat membantu shelter.
Menjadi foster jika kondisinya memungkinkan.
Mengunjungi keluarga atau teman yang mempunyai hewan.
Ikut kegiatan sukarela yang melibatkan hewan.
Atau berinteraksi melalui program animal-assisted intervention yang dikelola dengan benar.
Dengan cara tersebut, seseorang bisa menikmati hubungan dengan hewan tanpa langsung mengambil komitmen belasan tahun.
Ini juga menjadi kesempatan untuk mengetahui apakah kehidupan bersama anabul benar-benar cocok.
Anabul Bukan Pengganti Psikolog atau Psikiater
Bagian ini penting.
Karena artikel mengenai kesehatan mental sering terlalu cepat bergerak dari “membantu mengurangi stres” menjadi “menyembuhkan depresi dan kecemasan”.
Itu bukan klaim yang sama.
Memelihara hewan dapat menjadi bagian dari lingkungan yang mendukung kesejahteraan seseorang.
Tetapi gangguan kecemasan, depresi, PTSD dan kondisi kesehatan mental lainnya dapat membutuhkan penanganan profesional.
Jika stres sudah mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan sosial atau aktivitas sehari-hari secara berkepanjangan, keberadaan anabul tidak seharusnya menjadi alasan menunda mencari bantuan.
Kucing dapat menemani ketika kita sedang menjalani masa sulit.
Tetapi ia bukan terapis berlisensi.
Meskipun ekspresi wajahnya kadang terlihat seperti sedang menganalisis semua keputusan hidup kita.
Kenapa Hubungan Manusia dan Anabul Terasa Begitu Kuat?
Mungkin jawabannya bukan satu hormon.
Bukan satu penelitian.
Dan bukan satu manfaat.
Hubungan manusia dengan hewan bekerja melalui banyak jalur sekaligus.
Ada sentuhan.
Ada rutinitas.
Ada aktivitas.
Ada tanggung jawab.
Ada companionship.
Ada permainan.
Ada rasa dibutuhkan.
Ada makhluk lain yang kehadirannya tidak tergantung pada jabatan, penghasilan atau jumlah followers.
Anjing tidak peduli apakah presentasi kita tadi gagal.
Kucing bahkan mungkin tidak peduli pada kita selama mangkuk makanannya belum diisi.
Tetapi setelah semua urusan selesai, ia bisa datang dan tidur tepat di sebelah kita.
Hal kecil semacam itulah yang sulit dimasukkan ke dalam angka.
Rumah yang Tidak Lagi Terasa Sepi
Jadi, apakah pelihara anabul bisa mengurangi stres?
Bisa membantu, tetapi bukan jaminan.
Penelitian menunjukkan interaksi manusia dan hewan mempunyai potensi manfaat terhadap respons stres, rasa kesepian, dukungan sosial, aktivitas fisik dan kesejahteraan emosional.
Namun dampaknya berbeda pada setiap orang.
Dan kepemilikan hewan juga membawa biaya, tanggung jawab serta potensi stresnya sendiri.
Mungkin karena itu manfaat terbesar anabul tidak perlu dibesar-besarkan menjadi obat ajaib.
Kadang efeknya jauh lebih sederhana.
Hari sedang buruk.
Pekerjaan berantakan.
Perjalanan pulang melelahkan.
Pintu akhirnya dibuka.
Kemudian ada seekor makhluk kecil yang sudah menunggu.
Ia tidak bisa menyelesaikan masalah kita.
Besok tagihan tetap ada.
Pekerjaan tetap harus dilakukan.
Dunia tidak berubah.
Tetapi untuk beberapa menit, kepala berhenti memikirkan semuanya.
Tangan mengelus bulunya.
Ia mendengkur.
Dan rumah terasa sedikit lebih tenang.
Kadang, itu sudah sangat berarti.
Referensi
National Institutes of Health (NIH), “The Power of Pets: Health Benefits of Human-Animal Interactions.” NIH membahas penelitian mengenai interaksi manusia-hewan, termasuk kortisol, tekanan darah, rasa kesepian dan dukungan sosial.
https://newsinhealth.nih.gov/2018/02/power-pets
Centers for Disease Control and Prevention (CDC), “About Pets & People.” Informasi mengenai hubungan kepemilikan hewan dengan aktivitas fisik, interaksi sosial serta berbagai pertimbangan kesehatan ketika memelihara hewan.
https://www.cdc.gov/healthy-pets/about/index.html
American Psychiatric Association, “Americans Note Overwhelming Positive Mental Health Impact of Their Pets.” Survei mengenai persepsi pemilik hewan terhadap companionship, stres, kecemasan dan kesehatan mental.
https://www.psychiatry.org/news-room/news-releases/positive-mental-health-impact-of-pets
Nagasawa, M. et al., Science, “Oxytocin-gaze positive loop and the coevolution of human-dog bonds”, 2015. Penelitian mengenai interaksi tatapan manusia-anjing dan mekanisme oksitosin.
https://www.science.org/doi/10.1126/science.1261022
Mayo Clinic, “Mayo Clinic Q and A: How owning pets can lead to a healthier lifestyle.” Pembahasan mengenai hewan peliharaan, aktivitas fisik, companionship dan kesehatan.
https://newsnetwork.mayoclinic.org/discussion/mayo-clinic-q-and-a-how-owning-pets-can-lead-to-a-healthier-lifestyle/
American Heart Association, “Are pets good for your health?” Pembahasan hubungan hewan peliharaan, khususnya anjing, dengan aktivitas fisik dan kesehatan kardiovaskular.
https://www.heart.org/en/healthy-living/healthy-bond-for-life-pets
Myrick, J.G., Computers in Human Behavior, “Emotion regulation, procrastination, and watching cat videos online: Who watches Internet cats, why, and to what effect?”, 2015. Penelitian mengenai perubahan emosi setelah menonton konten kucing secara online.
https://doi.org/10.1016/j.chb.2015.06.001
American Veterinary Medical Association (AVMA), “Coping with the loss of a pet.” Informasi mengenai proses berduka setelah kehilangan hewan peliharaan.
https://www.avma.org/resources-tools/pet-owners/petcare/coping-loss-pet







