Ringkasan: Pada 20 Oktober 2026, Plan Indonesia memberi edukasi kebersihan menstruasi dan 147 paket kebersihan kepada siswi penyintas gempa di sekolah darurat Nagekeo, NTT. Tujuannya mencegah infeksi, menekan absensi, dan menghapus stigma yang memicu perundungan. Panduan ini merangkum fakta kejadian, data pendukung, dan langkah praktis untuk guru, relawan, dan orang tua.
Apa itu edukasi menstruasi bagi siswi penyintas gempa NTT?

Edukasi menstruasi bagi siswi penyintas gempa NTT adalah penyuluhan tentang kebersihan menstruasi yang disertai pembagian perlengkapan, diberikan di sekolah darurat pascagempa. Pada 20 Oktober 2026, Plan Indonesia melakukannya di SMP S Katolik Stella Maris, Marapokot, Nagekeo. Program ini bertujuan mencegah infeksi, mengurangi absensi, dan membangun lingkungan sekolah bebas stigma.
Apa yang terjadi di Nagekeo pada 20 Oktober 2026?

Fasilitator Plan Indonesia memberi edukasi kebersihan menstruasi kepada siswa penyintas gempa di sekolah darurat SMP S Katolik Stella Maris, Marapokot, Nagekeo, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Detik Health dan Antara Foto sama-sama mencatat kegiatan ini.
Rinciannya, menurut dua sumber tersebut:
- Sebanyak 147 paket kebersihan menstruasi dibagikan kepada siswi.
- Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, ikut memberi edukasi di lokasi.
- Tujuan yang disebut: mencegah potensi infeksi, mengurangi angka absen sekolah, dan menghapus stigma negatif maupun perundungan di antara siswa.
Satu hal perlu dibaca hati-hati. Angka 147 adalah jumlah paket yang dibagikan dalam kegiatan itu. Angka tersebut bukan jumlah seluruh siswi terdampak gempa di NTT.
Seberapa besar dampak gempa NTT pada sekolah dan siswa?

Gempa M7,7 mengguncang Nagekeo pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB, menurut NU Online. Pusat gempa berada di laut, menurut pemberitaan Metro TV. Pemprov NTT menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, menurut Investortrust.
Dampaknya terhadap pendidikan tercatat cukup besar. Berdasarkan data BNPB per 15 Oktober 2026 yang dimuat Antara Foto, sebanyak 261.602 siswa terdampak gempa. Sebanyak 2.147 unit bangunan sekolah di NTT mengalami kerusakan.
Karena gedung rusak, banyak kelas berpindah ke sekolah darurat. Di sanalah edukasi menstruasi di Nagekeo berlangsung. Fasilitas sanitasi, privasi, dan ruang ganti di tempat seperti ini hampir pasti lebih terbatas dibanding sekolah permanen. Itu kesimpulan logis dari kondisi darurat, bukan temuan survei khusus Nagekeo.
Data terverifikasi: apa saja angka yang bisa dipegang?

Tabel berikut merangkum angka yang punya sumber. Gunakan sebagai rujukan cepat, dan cek ulang ke sumber untuk keputusan program.
| Metrik | Nilai | Sumber | Periode |
| Korban meninggal akibat gempa M7,7 NTT | 111 orang | BNPB, via Okezone/RCTI+ | s.d. 30 Agustus 2026 |
| Jumlah pengungsi | 188.161 jiwa | BNPB, via Okezone/RCTI+ | 30 Agustus 2026 |
| Siswa terdampak gempa | 261.602 siswa | BNPB, via Antara Foto | 15 Oktober 2026 |
| Bangunan sekolah rusak di NTT | 2.147 unit | BNPB, via Antara Foto | 15 Oktober 2026 |
| Paket kebersihan menstruasi dibagikan di Marapokot | 147 paket | Detik Health, Antara Foto | 20 Oktober 2026 |
| Siswi SD/SMP pernah diejek saat menstruasi | 39% | Plan Indonesia & SMERU | Studi 2018 |
| Orang tua yang tidak pernah menjelaskan menstruasi ke anak perempuan | 63% | Plan Indonesia & SMERU | Studi 2018 |
| Anak perempuan Indonesia yang bolos sekolah saat menstruasi | 1 dari 7 | UNICEF, via Industry.co.id | Dirilis April 2026 |
Dua catatan metodologi. Pertama, angka 39% dan 63% berasal dari studi kualitatif Plan Indonesia bersama The SMERU Research Institute di sembilan sekolah di DKI Jakarta, NTT, dan NTB. Studi itu mencakup Kabupaten Nagekeo, tetapi sampelnya kecil, sehingga tidak mewakili seluruh Indonesia. Kedua, angka UNICEF tentang absensi berasal dari kutipan media, bukan dari laporan lengkap yang kami baca langsung.
Mengapa menstruasi menjadi isu serius di pengungsian dan sekolah darurat?

Menstruasi menjadi isu serius di pengungsian karena kebutuhan dasarnya, yaitu pembalut, air bersih, dan privasi, sering tertinggal di belakang makanan dan tempat tinggal. Pakar kesehatan Dicky Budiman, dikutip Tribunnews, menyebut perempuan di pengungsian gempa NTT membutuhkan privasi, keamanan, dan layanan kesehatan yang sesuai kondisi mereka, selain makanan, obat, dan tempat tinggal.
Ia meminta ruang aman, fasilitas terpisah, penerangan, dan layanan kesehatan reproduksi di pengungsian besar. Ia juga meminta pendataan kelompok rentan agar bantuan tidak berhenti pada kebutuhan umum.
Dompet Dhuafa melalui Program SUPER, yang menyasar kelompok rentan, mendampingi perempuan dan anak penyintas gempa NTT pada minggu keempat pascagempa. Artinya, kebutuhan kelompok ini sudah masuk radar sejumlah lembaga.
Di level sekolah, ada tiga risiko yang disebut berulang dalam sumber yang kami baca:
- Infeksi. Tujuan program Plan di Marapokot secara eksplisit mencakup pencegahan infeksi. Soal praktik kebersihan, CNN Indonesia (2019) melaporkan hanya 21% siswi dalam studi PlanโSMERU yang mencuci tangan dengan sabun sesudah ganti pembalut. Anjuran yang dikutip artikel itu adalah mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah ganti pembalut.
- Absen sekolah. UNICEF mencatat 1 dari 7 anak perempuan di Indonesia tidak masuk sekolah satu hari atau lebih saat menstruasi. Pada siswa penyintas bencana yang sudah kehilangan hari belajar, tambahan absen ini memperlebar ketertinggalan.
- Stigma dan perundungan. Bagian berikut membahasnya.
Untuk kondisi medis seperti nyeri hebat, perdarahan tidak biasa, atau tanda infeksi, konsultasikan dengan tenaga kesehatan berlisensi. Panduan ini bukan pengganti pemeriksaan medis.
Bagaimana menstruasi berkaitan dengan perundungan?

Menstruasi berkaitan dengan perundungan karena topiknya masih dianggap tabu, sehingga siswi yang mengalaminya mudah menjadi bahan ejekan. Dalam studi PlanโSMERU 2018, 39% siswi SD dan SMP pernah diejek temannya saat menstruasi. Plan Indonesia sendiri mengaitkan ejekan itu dengan keengganan anak perempuan masuk sekolah saat haid, menurut CNN Indonesia (2018).
Sumber akar masalahnya juga tercatat. Dalam studi yang sama, 63% orang tua tidak pernah menjelaskan menstruasi kepada anak perempuannya. Sebanyak 33% sekolah tidak punya toilet terpisah untuk siswa laki-laki dan perempuan. Data ini dari materi presentasi Silvia Devina, penasihat WASH Plan International Indonesia, di situs SMERU.
Angka perundungan lain muncul dari survei UNICEF U-Report 2017 yang dikutip sebuah jurnal pengabdian masyarakat: 17% anak perempuan Indonesia diejek atau diintimidasi saat menstruasi. Perbedaan 17% dan 39% wajar, karena metode dan respondennya berbeda. Jangan menjumlahkan atau mengambil rata-ratanya.
Pesannya untuk praktik di lapangan: edukasi yang hanya menyasar siswi tidak cukup. Kegiatan Plan di Marapokot disebut bertujuan mendorong lingkungan sekolah yang bebas stigma dan perundungan. Apakah siswa laki-laki ikut dilibatkan, dan bagaimana caranya, belum dipublikasikan dalam sumber yang kami temukan.
7 komponen program edukasi menstruasi di sekolah darurat

Daftar ini adalah kerangka kerja praktis yang kami susun dari fakta di atas. Ini bukan standar resmi pemerintah atau lembaga mana pun.
- Paket kebersihan menstruasi. Pembalut dan perlengkapan pendukung, seperti yang dibagikan Plan Indonesia (147 paket di Marapokot).
- Penyuluhan yang menormalkan menstruasi. Dini Widiastuti menyebut menstruasi sebagai kondisi normal yang dialami semua perempuan, menurut CNN Indonesia (2018). Kalimat sederhana seperti ini bisa menjadi pembuka sesi.
- Sasaran seluruh kelas. Siswa laki-laki ikut mendengar, supaya ejekan kehilangan bahan.
- Fasilitas yang menjaga privasi. Toilet atau bilik terpisah dan penerangan memadai, sesuai permintaan Dicky Budiman untuk pengungsian.
- Air dan sabun. Cuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah ganti pembalut, anjuran yang dikutip CNN Indonesia (2019).
- Pelibatan guru dan orang tua. Studi Burnet Institute 2015, via CNN Indonesia (2018), mencatat keterbatasan pengetahuan guru soal MKM sebagai salah satu alasan siswi enggan masuk sekolah saat haid.
- Rujukan kesehatan. Jalur ke puskesmas atau tenaga kesehatan untuk keluhan yang tidak bisa ditangani guru.
Cara menjalankan edukasi menstruasi di sekolah darurat: langkah praktis

Cara menjalankan edukasi menstruasi di sekolah darurat: 1) pastikan ada pembalut dan air bersih, 2) siapkan ruang privat, 3) beri penyuluhan singkat di depan seluruh kelas, 4) libatkan guru dan orang tua, 5) catat kehadiran siswi, 6) siapkan rujukan ke tenaga kesehatan.
- Cek kebutuhan dulu. Tanyakan ke guru dan siswi apa yang kurang: pembalut, sabun, air, atau tempat membuang sampah pembalut.
- Siapkan ruang yang aman. Pilih bilik atau sudut yang tertutup dan terang. Pengungsian dan sekolah darurat rentan soal privasi, menurut Dicky Budiman.
- Mulai dari bahasa yang biasa. Sebut menstruasi sebagai proses tubuh yang normal. Hindari istilah yang memicu tawa atau rasa malu.
- Libatkan semua siswa. Beri sesi untuk seluruh kelas, lalu sesi tanya jawab terpisah untuk siswi.
- Bagikan paket dengan diskret. Hindari pembagian yang menyorot siswi tertentu di depan umum.
- Latih satu atau dua guru sebagai penanggung jawab. Studi Burnet Institute mencatat keterbatasan pengetahuan guru sebagai hambatan.
- Catat kehadiran. Jika absen siswi berkurang, itu indikator awal. Tanpa pencatatan, dampak program tidak bisa dinilai.
Apa yang belum diketahui dari program di Nagekeo?

Beberapa hal belum terjawab dalam sumber yang tersedia saat artikel ini ditulis:
- Hasil program. Belum ada laporan tentang perubahan angka absen atau kasus perundungan setelah 20 Oktober 2026.
- Cakupan. Tidak ada data berapa siswi di sekolah darurat lain di Nagekeo, Manggarai, atau Ende yang sudah dijangkau.
- Materi dan metode. Isi penyuluhan dan cara melibatkan siswa laki-laki belum dipublikasikan.
- Keberlanjutan. Belum jelas apakah paket kebersihan akan dipasok ulang.
Pembaca yang mengelola bantuan sebaiknya menanyakan hal-hal ini langsung ke lembaga pelaksana. Kami akan memperbarui halaman ini jika laporan resmi terbit.
Baca Juga Atasi Insomnia: Cara Mengatasi Susah Tidur agar Istirahat Lebih Nyenyak
FAQ: edukasi menstruasi siswi penyintas gempa NTT
Apa itu edukasi menstruasi bagi siswi penyintas gempa NTT?
Penyuluhan kebersihan menstruasi yang disertai pembagian paket perlengkapan di sekolah darurat pascagempa. Plan Indonesia melakukannya pada 20 Oktober 2026 di SMP S Katolik Stella Maris, Marapokot, Nagekeo, dengan 147 paket untuk siswi. Tujuannya mencegah infeksi, mengurangi absen, dan menghapus stigma.
Siapa yang memberikan edukasi menstruasi di Nagekeo?
Plan Indonesia. Direktur Eksekutifnya, Dini Widiastuti, memberi edukasi langsung di sekolah darurat tersebut, menurut Antara Foto. Plan telah bermitra dengan komunitas di Nagekeo sejak 2011, menurut laporan tahunan Plan International.
Bagaimana menstruasi bisa memicu perundungan di sekolah?
Karena topiknya tabu. Studi PlanโSMERU 2018 menemukan 39% siswi SD dan SMP pernah diejek saat menstruasi, dan 63% orang tua tidak pernah menjelaskannya kepada anak perempuan. Edukasi yang melibatkan seluruh siswa membantu menghilangkan bahan ejekan.
Berapa jumlah siswa terdampak gempa NTT?
BNPB mencatat 261.602 siswa terdampak dan 2.147 bangunan sekolah rusak per 15 Oktober 2026. Angka ini mencakup semua siswa, bukan hanya siswi, dan dapat berubah.
Bagaimana cara membantu siswi penyintas gempa mengelola menstruasi?
Sediakan pembalut, air bersih, dan sabun. Siapkan ruang privat, beri penyuluhan yang menormalkan menstruasi untuk seluruh kelas, dan arahkan keluhan kesehatan ke puskesmas atau tenaga kesehatan.
Sumber
- Detik Health: Cegah Infeksi dan Perundungan, Siswi Penyintas Gempa NTT Dapat Edukasi Menstruasi
- Antara Foto: Edukasi kebersihan menstruasi siswa penyintas gempa
- Antara Foto: Pemulihan psikososial siswa penyintas gempa (data BNPB 15 Oktober 2026)
- Okezone via RCTI+: Korban Gempa M7,7 NTT, 111 Orang Meninggal
- NU Online: Tercatat 3.394 Gempa Susulan Flores
- Investortrust: Pemprov NTT Tetapkan Status Tanggap Darurat
- Tribunnews: Gempa NTT, Perempuan dan Ibu Hamil Rentan di Pengungsian
- Dompet Dhuafa: Perempuan Tangguh Penyintas Gempa NTT
- CNN Indonesia (2019): Manajemen Kebersihan Menstruasi Jadi PR Buat Sekolah
- CNN Indonesia (2018): Tiga Alasan Pelajar Wanita Tak Masuk Sekolah Saat Menstruasi
- SMERU Research Institute: studi MKM siswa SD dan SMP di Indonesia
- SMERU: presentasi Silvia Devina, Plan International Indonesia (PDF)
- Industry.co.id: Wings for UNICEF dan Hers Protex luncurkan edukasi di 20 SMP
- Plan International: Annual Update Nagekeo FY25 (PDF)







