Ringkasan: Skrining Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan yang dirilis Januari 2026 mendapati 4,8% atau sekitar 363.326 anak usia 7-17 tahun menunjukkan gejala depresi. Anggota Komisi X DPR RI Lestari Moerdijat menyebut temuan ini, bersama data kenaikan kasus bunuh diri anak, sebagai kondisi darurat kesehatan mental anak Indonesia.
Apa Itu Data 363.326 Anak Terindikasi Depresi?

Angka 363.326 berasal dari hasil skrining kesehatan jiwa dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan yang dirilis pada Januari 2026. Dari total anak usia 7-17 tahun yang diperiksa, sekitar 4,8% menunjukkan gejala depresi — setara dengan 363.326 anak secara nasional. Angka ini pertama kali disorot secara luas setelah anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat (Rerie), mengangkatnya dalam pembahasan mengenai kondisi kesehatan mental anak Indonesia pertengahan Juli 2026.
Mengapa DPR RI Menyebut Ini Darurat?

Rerie tidak hanya menyoroti angka depresi, tapi mengaitkannya dengan data lain yang menurutnya menunjukkan tren memburuk secara konsisten. Data Kepolisian RI (Polri) mencatat kasus bunuh diri pada anak usia 0-15 tahun naik lebih dari dua kali lipat dalam dua tahun: dari 604 kasus pada 2022 menjadi 1.498 kasus pada 2024. Kombinasi kenaikan prevalensi gejala depresi dan lonjakan kasus bunuh diri inilah yang mendasari pernyataan “darurat kesehatan mental anak” tersebut. Rerie, yang juga menjabat di lingkup MPR, mendorong pelibatan anak, keluarga, sekolah, dan pemerintah secara bersamaan dalam merumuskan kebijakan penanganan.
Data Pendukung: Skala Masalah Kesehatan Mental Anak dan Remaja Indonesia
Data 363.326 anak bukan temuan tunggal. Beberapa sumber resmi lain memperkuat gambaran yang sama:
| Indikator | Angka | Sumber | Periode |
|---|---|---|---|
| Anak 7-17 tahun bergejala depresi | 4,8% (~363.326 anak) | Kemenkes — skrining CKG | Dirilis Januari 2026 |
| Anak dengan gejala kecemasan | 4,4% (~338.316 anak) | Menkes Budi Gunadi Sadikin | 2026 |
| Kasus bunuh diri usia 0-15 tahun | 604 → 1.498 kasus | Polri | 2022 → 2024 |
| Remaja mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir | 34,9% (~15,5 juta remaja) | I-NAMHS | 2022 |
| Remaja dengan minimal satu gangguan mental | 5,5% (~2,45 juta remaja) | I-NAMHS | 2022 |
Data I-NAMHS (Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey) dan catatan DPR RI menunjukkan pola yang konsisten sejak beberapa tahun terakhir — bukan lonjakan mendadak, melainkan tren yang terus terpantau memburuk. Untuk gambaran tren jangka menengah pada remaja secara lebih luas, dapat dilihat pada laporan krisis kesehatan mental remaja Indonesia yang merangkum sejumlah indikator serupa.
Faktor yang Disebut Berkontribusi

Menurut Rerie, persoalan kesehatan mental anak kerap berkaitan erat dengan pengalaman kekerasan yang pernah dialami anak, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan sosial. Tekanan dari dinamika keluarga, media sosial, dan ekspektasi sosial yang makin kompleks juga disebut sejumlah psikolog sebagai faktor pendorong, meski penyebab pastinya bersifat multifaktor dan berbeda pada tiap anak.
Kondisi ini sejalan dengan pola yang tercatat pada isu-isu terkait, seperti tekanan aspirasi sosial pada anak dan lonjakan percobaan bunuh diri remaja yang sempat disampaikan Wakil Menteri Kesehatan dalam laporan 2 dari 100 remaja Indonesia pernah mencoba bunuh diri.
Peran Orang Tua dan Sekolah

DPR RI secara khusus menekankan pelibatan keluarga dalam menangani temuan ini, bukan hanya intervensi dari sisi layanan kesehatan. Komunikasi dua arah antara orang tua dan anak — mengenali perubahan pola makan, tidur, atau perilaku sejak dini — disebut sejumlah psikolog sebagai langkah pencegahan yang lebih efektif dibanding larangan langsung, misalnya soal penggunaan gawai. Panduan praktis mengenai hal ini dibahas lebih lanjut dalam peran orang tua menjaga kesehatan mental remaja.
Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai
Gejala depresi pada anak tidak selalu tampak sebagai kesedihan yang terlihat jelas. Perubahan pola tidur, penarikan diri dari lingkungan sosial, penurunan performa akademik, dan perubahan nafsu makan adalah beberapa indikator awal yang umum disebutkan oleh tenaga kesehatan jiwa. Uraian lebih rinci soal pengenalan gejala pada remaja tersedia di tanda umum gangguan kecemasan dan gejala stres pada remaja.
Kapan Harus Membawa Anak ke Psikolog atau Psikiater?
Ketika gejala menetap lebih dari dua minggu, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai tanda-tanda menyakiti diri, konsultasi profesional sebaiknya tidak ditunda. Panduan mengenali momen yang tepat untuk mencari bantuan profesional dibahas di kapan harus ke psikolog untuk bantuan mental.
FAQ — 363.326 Anak Indonesia Terindikasi Depresi
Dari mana angka 363.326 anak terindikasi depresi berasal?
Angka ini berasal dari hasil skrining kesehatan jiwa Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan, yang dirilis Januari 2026, mencakup anak usia 7-17 tahun secara nasional.
Mengapa DPR RI menyebut kondisi ini darurat?
Karena temuan gejala depresi ini dibarengi data Polri yang menunjukkan kasus bunuh diri anak usia 0-15 tahun naik dari 604 kasus (2022) menjadi 1.498 kasus (2024) — kenaikan lebih dari dua kali lipat dalam dua tahun.
Apa langkah yang didorong DPR RI untuk mengatasi ini?
Rerie mendorong pelibatan bersama anak, keluarga, sekolah, dan pemerintah dalam merumuskan kebijakan penanganan kesehatan mental anak, agar kebijakan yang lahir memiliki perspektif anak.
Ke mana bisa menghubungi bantuan jika anak menunjukkan tanda depresi atau risiko bunuh diri?
Layanan Sejiwa dari Kementerian Kesehatan dapat dihubungi melalui 119 ekstensi 8, tersedia 24 jam, atau berkonsultasi langsung dengan psikolog/psikiater terdekat.
Butuh bantuan segera? Jika anak atau orang di sekitar Anda menunjukkan tanda-tanda ingin menyakiti diri atau bunuh diri, segera hubungi layanan Sejiwa Kementerian Kesehatan di 119 ekstensi 8 (24 jam), atau bawa ke unit gawat darurat/psikolog-psikiater terdekat. Jangan menunggu.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasional dan disusun berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan, Polri, DPR RI, dan I-NAMHS. Artikel ini bukan pengganti diagnosis atau konsultasi profesional. Kondisi kesehatan mental anak sebaiknya selalu dikonsultasikan dengan psikolog atau psikiater berlisensi.
Disusun oleh redaksi hawaiiycc.com berdasarkan pernyataan resmi DPR RI/MPR, data Kementerian Kesehatan, dan data Kepolisian RI.







