STATISTIK PENTING: Berdasarkan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, sebanyak 15,5 juta atau 34,9% remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Kecemasan menjadi masalah paling umum dengan prevalensi 26,7%, yang sering ditandai dengan mood swings atau perubahan suasana hati yang drastis. (Sumber: I-NAMHS 2022, Universitas Gadjah Mada)
Pernahkah kamu melihat remaja yang tiba-tiba berubah dari ceria menjadi murung tanpa sebab yang jelas? Atau mungkin kamu sendiri mengalaminya? Fenomena ini bukan sekadar “drama remaja” biasa. Data dari survei I-NAMHS yang melibatkan 5.664 pasang remaja dan pengasuh menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental pada remaja Indonesia telah mencapai angka yang mengkhawatirkan.
Mood swings pada remaja bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga dapat memengaruhi prestasi akademik, hubungan sosial, dan bahkan meningkatkan risiko perilaku berbahaya. Yang lebih mengkhawatirkan, hanya 2,6% remaja dengan masalah kesehatan mental yang mengakses layanan profesional dalam 12 bulan terakhir. (Sumber: I-NAMHS 2022)
Artikel ini akan membahas secara komprehensif tentang mood swings pada remaja, penyebabnya, dampaknya, dan yang paling penting – solusi praktis yang dapat diterapkan berdasarkan penelitian terkini dan panduan kesehatan mental terpercaya.
Jawaban Cepat: Apa Itu Mood Swings pada Remaja?

Berdasarkan Universitas Alma Ata, mood swings adalah perubahan suasana hati yang cepat dan intens pada remaja, yang dapat muncul dalam berbagai bentuk seperti kebahagiaan berlebihan, kesedihan mendalam, kemarahan mudah tersulut, atau kecemasan berlebihan. Mood swings disebabkan oleh kombinasi faktor biologis (perubahan hormon estrogen dan testosteron), psikologis (tekanan akademik dan sosial), dan sosial (masalah keluarga dan media sosial).
Penyebab utama meliputi perkembangan otak yang belum sempurna di area regulasi emosi dan tekanan dari lingkungan. Solusinya mencakup pola tidur teratur 7-9 jam, aktivitas fisik rutin 30 menit per hari, manajemen stres melalui meditasi atau yoga, pola makan sehat, dan dukungan profesional jika diperlukan. (Sumber: Universitas Alma Ata, 2024)
Memahami Mood Swings pada Remaja – Definisi dan Fakta Terkini

Mood swings atau perubahan suasana hati adalah kondisi psikologis yang ditandai dengan fluktuasi emosi yang cepat dan signifikan. Menurut penelitian dari Universitas Alma Ata yang dipublikasikan pada Juli 2024, mood swings pada remaja dapat muncul dalam berbagai bentuk yang terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan ini mencakup kebahagiaan dan kegembiraan yang meluap-luap, kesedihan mendalam disertai mudah menangis, kemarahan yang mudah tersulut, kecemasan dan ketakutan yang berlebihan, serta ketidakstabilan dan kebingungan. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menekankan bahwa mood swings adalah kondisi psikologis yang wajar ketika remaja menghadapi perubahan dalam hidupnya, namun jika terjadi terus-menerus tanpa alasan jelas, bisa menjadi tanda gangguan kesehatan mental.
DATA GLOBAL WHO: 1 dari 7 anak berusia 10-19 tahun mengalami masalah kesehatan mental, dengan depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku sebagai penyebab utama. Di Indonesia, angkanya lebih tinggi – 1 dari 3 remaja mengalami masalah kesehatan mental berdasarkan I-NAMHS 2022. (Sumber: WHO, Kompas.id Maret 2025)
Riset bibliometrik dari Universitas Airlangga yang menganalisis 500 artikel ilmiah nasional dan internasional (2019-2024) menunjukkan peningkatan signifikan penelitian kesehatan mental remaja, mencapai puncaknya pada 2023. Lima topik utama yang paling sering dibahas adalah kesehatan mental, generasi muda, remaja, anak, dan gangguan psikologis. Isu tekanan akademik, kondisi ekonomi keluarga, hingga literasi finansial muncul sebagai faktor yang memengaruhi keseimbangan psikologis remaja.
Penyebab Mood Swings pada Remaja – Analisis Mendalam Berdasarkan Riset

Faktor Biologis dan Perkembangan Otak
Berdasarkan penelitian Universitas Alma Ata, perubahan hormon selama masa pubertas, terutama hormon estrogen dan testosteron, dapat mempengaruhi neurotransmitter di otak yang mengatur emosi. Otak remaja masih dalam proses perkembangan, khususnya di area prefrontal cortex yang terkait dengan regulasi emosi dan pengambilan keputusan. Kondisi ini membuat remaja lebih rentan terhadap perubahan suasana hati yang ekstrem dibandingkan orang dewasa.
Fakta Penting tentang Perkembangan Otak Remaja:
- Area otak yang mengatur emosi belum sepenuhnya matang hingga usia 25 tahun
- Ketidakseimbangan antara sistem limbik (emosi) dan prefrontal cortex (kontrol) menyebabkan reaksi emosional lebih intens
- Fluktuasi hormon selama pubertas dapat berlangsung selama beberapa tahun
- Sistem reward di otak remaja lebih sensitif, membuat mereka lebih mudah terpengaruh tekanan sosial
Faktor Psikologis dan Tekanan Akademik
Berdasarkan temuan I-NAMHS, sebanyak 39,3% remaja mengalami masalah terkait sekolah atau pekerjaan. Tekanan akademik yang tinggi, ekspektasi untuk berprestasi, dan tuntutan dari orang tua atau lingkungan menjadi pemicu signifikan mood swings pada remaja. Penelitian dari Rumah Sakit Akademik UGM menyebutkan bahwa tekanan akademis dan harapan terhadap prestasi merupakan salah satu faktor utama yang memengaruhi kesehatan mental remaja.
Survei terhadap mahasiswa di Poltekkes Tasikmalaya tahun 2025 menunjukkan bahwa isu kesehatan mental tertinggi adalah kekhawatiran akan masa depan, khususnya terkait kelulusan dan pekerjaan. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan akademik tidak hanya dialami saat SMA, tetapi berlanjut hingga jenjang perguruan tinggi.
Faktor Sosial dan Pengaruh Media Sosial
Riset dari Universitas Airlangga mengidentifikasi media sosial sebagai salah satu faktor dominan yang memengaruhi kondisi psikologis remaja. Aktivitas daring yang berlebihan dapat meningkatkan risiko kecemasan, depresi, hingga munculnya keinginan bunuh diri. Tekanan sosial dari lingkungan digital, seperti perbandingan diri dan validasi sosial melalui likes atau followers, turut memperburuk kondisi mental remaja.
โ ๏ธ PENTING UNTUK DICATAT: Penelitian terbaru dari Journal of Adolescent Health (Maret 2025) menunjukkan bahwa kualitas persahabatan lebih menentukan kesehatan mental remaja dibandingkan seberapa banyak waktu yang dihabiskan di media sosial. Studi dari Universitas Curtin (November 2024) juga menemukan bahwa dampak media sosial terhadap kesehatan mental lebih kecil dari yang diduga sebelumnya. (Sumber: Kompas.id, Maret 2025)
Faktor Keluarga dan Lingkungan
Data I-NAMHS mencatat bahwa 64,7% remaja mengalami gangguan atau masalah pada hubungan dengan keluarga, termasuk dalam menghabiskan waktu bersama keluarga. Selain itu, 41,1% remaja mengalami masalah pada hubungan dengan teman sebaya. Kondisi keluarga seperti perceraian, konflik, tekanan ekonomi, atau pola asuh yang tidak sesuai dapat menjadi pemicu signifikan mood swings.
Tanda-Tanda Mood Swings yang Perlu Diwaspadai
Berdasarkan panduan dari Kementerian Kesehatan RI dan Rumah Sakit Akademik UGM, berikut adalah tanda-tanda yang harus diwaspadai pada remaja yang mengalami mood swings:
Tanda-Tanda Fisik dan Perilaku:
- Perubahan pola tidur: Susah tidur atau justru tidur berlebihan. Kualitas tidur yang buruk dapat memperburuk suasana hati dan meningkatkan iritabilitas
- Gangguan pola makan: Kehilangan nafsu makan atau makan berlebihan (stress eating), yang dapat berpotensi menyebabkan obesitas
- Keluhan fisik: Sakit kepala, nyeri otot, sakit perut, sakit punggung, tidak bersemangat dan bertenaga tanpa penyebab medis yang jelas
- Penarikan diri sosial: Menghindari keramaian, merasa cemas berlebihan saat berada di antara orang lain, takut terhadap penolakan
Tanda-Tanda Emosional:
- Kesulitan mengelola emosi: Menjadi lebih sensitif, bisa marah meledak-ledak atau merasa sedih berlebihan tanpa alasan yang jelas
- Perubahan mood drastis: Dari sangat senang ke sangat sedih dalam waktu singkat
- Mudah tersinggung: Mengamuk, memberontak, atau berperilaku seperti anak kecil
- Kehilangan minat: Terhadap hal-hal yang biasa dilakukan, seperti pergi ke sekolah atau bermain bersama teman
- Perasaan tidak berharga: Menyalahkan diri sendiri, merasa tidak memiliki nilai
Solusi Praktis Mengatasi Mood Swings pada Remaja

1. Pola Tidur Teratur dan Berkualitas
Berdasarkan rekomendasi dari berbagai ahli kesehatan mental, tidur yang cukup dan berkualitas sangat penting untuk kestabilan suasana hati. Usahakan tidur selama 7-9 jam setiap malam dan ciptakan rutinitas tidur yang konsisten. Kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk dapat memperburuk mood swings secara signifikan.
Tips Meningkatkan Kualitas Tidur:
- Hindari penggunaan gadget satu jam sebelum tidur untuk mengurangi paparan blue light yang mengganggu produksi melatonin
- Ciptakan lingkungan tidur yang nyaman dengan mengatur suhu kamar (idealnya 18-22ยฐC) dan pencahayaan yang redup
- Terapkan teknik relaksasi seperti meditasi atau membaca buku sebelum tidur untuk menenangkan pikiran
- Jaga konsistensi waktu tidur dan bangun, termasuk di akhir pekan, untuk mengatur ritme sirkadian tubuh
2. Aktivitas Fisik Teratur
Olahraga adalah cara efektif untuk mengurangi mood swings. Aktivitas fisik dapat melepaskan endorfin, hormon yang dapat meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres. Berdasarkan rekomendasi kesehatan, lakukan aktivitas fisik setidaknya 30 menit sehari untuk mendapatkan manfaat optimal.
Pilihan Aktivitas Fisik yang Efektif:
- Berjalan santai atau jogging pagi untuk memulai hari dengan fresh dan meningkatkan produksi serotonin
- Yoga untuk melatih keseimbangan fisik dan mental, serta meningkatkan kemampuan regulasi emosi
- Bersepeda atau berenang sebagai olahraga kardiovaskular yang menyenangkan
- Bergabung dengan komunitas olahraga atau tim untuk meningkatkan motivasi dan aspek sosial
3. Manajemen Stres yang Efektif
Stres adalah salah satu penyebab utama mood swings. Mengelola stres dengan baik dapat membantu menstabilkan suasana hati dan mengurangi frekuensi perubahan mood yang ekstrem. Temukan teknik manajemen stres yang paling efektif untuk diri sendiri.
Teknik Manajemen Stres yang Terbukti Efektif:
- Meditasi dan mindfulness: Latihan pernapasan dalam dan meditasi 10-15 menit setiap hari dapat mengurangi tingkat kortisol (hormon stres)
- Journaling: Menulis jurnal atau mood diary untuk mengidentifikasi pola dan pemicu mood swings, sehingga dapat dihindari di kemudian hari
- Hobi dan aktivitas menyenangkan: Melakukan hal-hal yang disukai seperti menggambar, musik, atau membaca untuk mengalihkan pikiran dari sumber stres
- Time management: Membuat daftar kegiatan dan prioritas untuk mengurangi rasa kewalahan dengan tugas yang menumpuk
4. Pola Makan Sehat dan Seimbang
Asupan nutrisi yang seimbang berperan penting dalam menjaga kestabilan emosi. Hindari konsumsi berlebihan makanan manis, kafein, dan makanan tinggi lemak jenuh yang dapat memicu mood swings. Konsumsi makanan bergizi yang kaya protein, serat, dan vitamin untuk mendukung fungsi otak optimal.
Panduan Pola Makan untuk Stabilitas Mood:
- Konsumsi makanan kaya omega-3 (ikan salmon, kacang-kacangan) yang baik untuk kesehatan otak
- Perbanyak sayuran dan buah-buahan segar yang mengandung antioksidan dan vitamin B kompleks
- Hindari gula berlebihan yang dapat menyebabkan lonjakan dan penurunan gula darah drastis
- Batasi kafein yang dapat meningkatkan kecemasan dan mengganggu pola tidur
- Makan teratur dengan porsi yang cukup untuk menjaga energi stabil sepanjang hari
5. Membangun Dukungan Sosial yang Kuat
Berbicara dengan teman dekat, anggota keluarga, atau orang yang dipercaya dapat membantu remaja merasa didukung dan dipahami selama periode mood swings. Berdasarkan penelitian terbaru, kualitas persahabatan lebih menentukan kesehatan mental remaja dibandingkan faktor lainnya.
Cara Membangun Dukungan Sosial:
- Berkomunikasi terbuka dengan orang tua atau keluarga tentang perasaan tanpa takut dihakimi
- Membangun hubungan berkualitas dengan teman yang supportive dan positif
- Bergabung dengan komunitas atau kelompok yang memiliki minat sama
- Hindari isolasi sosial dan tetap menjaga koneksi dengan orang-orang terdekat
6. Mencari Bantuan Profesional
Jika mood swings terjadi terus-menerus dan mengganggu kehidupan sehari-hari, penting untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater. Mereka dapat membantu mengidentifikasi penyebab dan memberikan terapi atau penanganan yang sesuai.
โ ๏ธ Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional:
- Mood swings terjadi sangat sering dan intens hingga mengganggu aktivitas sehari-hari
- Muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri
- Penurunan prestasi akademik yang signifikan dan berkelanjutan
- Penarikan diri total dari lingkungan sosial
- Muncul perilaku berisiko seperti penyalahgunaan zat terlarang
- Keluhan fisik yang tidak membaik meski sudah beristirahat
Ingat: Data I-NAMHS menunjukkan hanya 2,6% remaja yang mengakses layanan profesional. Jangan ragu untuk mencari bantuan karena kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Peran Orang Tua dan Lingkungan dalam Mendukung Remaja
Berdasarkan panduan dari Rumah Sakit Akademik UGM dan Kementerian Kesehatan, orang tua dan lingkungan memiliki peran krusial dalam mendukung kesehatan mental remaja. Berikut cara efektif mendukung remaja yang mengalami mood swings:
Strategi untuk Orang Tua:
- Dengarkan tanpa menghakimi: Biarkan mereka bicara tentang perasaan tanpa langsung memberi nasihat atau menyalahkan. Hindari kalimat seperti “Kamu lebay” atau “Orang lain lebih susah dari kamu”
- Tunjukkan empati dan dukungan: Ungkapkan bahwa Anda peduli dan siap membantu. Misalnya: “Aku mungkin tidak sepenuhnya paham, tapi aku di sini untuk kamu”
- Jangan menambah tekanan: Hindari ekspektasi akademik atau sosial yang terlalu tinggi yang dapat memperburuk kondisi
- Dorong gaya hidup sehat: Bantu mereka menjaga pola tidur teratur, pola makan sehat, olahraga rutin, dan waktu istirahat dari gadget
- Fasilitasi bantuan profesional: Jika terlihat serius, bantu mereka menemui psikolog, konselor sekolah, atau dokter tanpa stigma negatif
- Ciptakan lingkungan yang mendukung: Ruang yang nyaman, komunikasi terbuka, dan suasana keluarga yang harmonis
Baca Juga 5 Cara Gen Z Jaga Mental Health di Media Sosial
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Mood Swings pada Remaja
1. Apakah mood swings pada remaja itu normal?
Mood swings yang terjadi sesekali adalah normal pada remaja karena perubahan hormonal dan perkembangan otak. Namun, menurut Fakultas Psikologi UI, jika perubahan mood terjadi terus-menerus tanpa alasan jelas dan mengganggu aktivitas sehari-hari, ini bisa menjadi tanda gangguan kesehatan mental yang memerlukan perhatian lebih. Berdasarkan I-NAMHS 2022, 34,9% remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, menunjukkan bahwa masalah ini cukup umum namun perlu ditangani serius.
2. Apa perbedaan mood swings dengan gangguan bipolar?
Mood swings terjadi dalam waktu yang lebih singkat (bisa beberapa jam atau hari) dan masih bisa dikendalikan dengan strategi coping yang tepat. Sementara gangguan bipolar melibatkan perubahan suasana hati yang ekstrem antara fase mania dan depresi yang berlangsung lebih lama (bisa berhari-hari atau berminggu-minggu) dan memerlukan penanganan medis profesional dengan obat-obatan dan terapi. Mood swings yang normal dapat diatasi dengan perubahan gaya hidup, sementara bipolar memerlukan intervensi medis.
3. Berapa lama mood swings pada remaja akan berlangsung?
Durasi mood swings bervariasi tergantung penyebabnya. Mood swings terkait pubertas biasanya membaik seiring dengan stabilnya hormon, yang bisa memakan waktu beberapa tahun hingga akhir masa remaja atau awal 20-an. Dengan penanganan yang tepat seperti pola hidup sehat, manajemen stres, dan dukungan sosial, intensitas dan frekuensi mood swings dapat berkurang secara signifikan. Jika disertai gangguan mental lain, diperlukan penanganan profesional yang lebih intensif.
4. Apakah diet atau pola makan bisa mempengaruhi mood swings?
Ya, pola makan sangat mempengaruhi stabilitas mood. Makanan tinggi gula dan kafein berlebihan dapat menyebabkan lonjakan dan penurunan gula darah drastis yang memicu perubahan mood. Sebaliknya, makanan bergizi kaya protein, serat, vitamin B kompleks, dan omega-3 dapat mendukung fungsi otak optimal dan stabilitas emosi. Konsumsi makanan teratur dengan porsi seimbang membantu menjaga energi dan mood stabil sepanjang hari. Dehidrasi juga dapat memperburuk mood, jadi pastikan asupan air yang cukup.
5. Bagaimana cara membedakan mood swings normal dengan yang perlu bantuan profesional?
Mood swings normal biasanya memiliki pemicu yang jelas, tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari, dan dapat dikelola dengan strategi coping sederhana. Anda perlu mencari bantuan profesional jika mood swings sangat sering dan ekstrem, muncul pikiran untuk menyakiti diri atau bunuh diri, terjadi penurunan prestasi akademik signifikan, penarikan diri total dari lingkungan sosial, atau muncul perilaku berisiko tinggi. Berdasarkan I-NAMHS, hanya 2,6% remaja yang mencari bantuan profesional padahal angka masalah kesehatan mental sangat tinggi, jadi jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater jika diperlukan.
6. Apakah media sosial benar-benar menyebabkan mood swings pada remaja?
Penelitian terbaru dari Journal of Adolescent Health (Maret 2025) menunjukkan bahwa hubungan media sosial dengan mood swings lebih kompleks dari yang diduga. Studi dari Universitas Curtin menemukan dampak waktu penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental sangat kecil atau bahkan tidak ada ketika diukur secara objektif. Yang lebih menentukan adalah kualitas persahabatan dan interaksi sosial remaja. Media sosial dengan interaksi positif justru dapat memperkuat rasa percaya diri dan mengurangi kesepian. Namun, tekanan sosial digital seperti perbandingan diri dan validasi sosial melalui likes tetap perlu dikelola dengan bijak.
7. Apa saja tanda bahaya yang menunjukkan mood swings sudah berbahaya?
Berdasarkan panduan Kementerian Kesehatan dan Rumah Sakit Akademik UGM, tanda bahaya yang perlu perhatian segera meliputi: munculnya keinginan atau percobaan bunuh diri, menyakiti diri sendiri secara fisik (self-harm), perubahan drastis dalam pola tidur dan makan yang ekstrem, isolasi sosial total selama berminggu-minggu, penurunan prestasi akademik yang sangat signifikan, perilaku berisiko seperti penyalahgunaan alkohol atau narkoba, atau kehilangan kemampuan merawat diri sendiri. Data menunjukkan bunuh diri adalah penyebab kematian keempat pada kelompok usia 15-29 tahun, sehingga tanda-tanda ini harus ditanggapi dengan serius dan segera mencari bantuan profesional.
Mood Swings pada Remaja Dapat Diatasi dengan Pendekatan Tepat
Ringkasan Poin Penting:
- Berdasarkan I-NAMHS 2022, 34,9% atau 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, dengan kecemasan sebagai masalah paling umum (26,7%)
- Data WHO global menunjukkan 1 dari 7 anak usia 10-19 tahun mengalami masalah kesehatan mental
- Mood swings disebabkan oleh kombinasi faktor biologis (hormon, perkembangan otak), psikologis (tekanan akademik, stres), dan sosial (keluarga, teman, media sosial)
- Hanya 2,6% remaja dengan masalah kesehatan mental yang mengakses layanan profesional – angka ini perlu ditingkatkan
- Solusi efektif meliputi pola tidur teratur 7-9 jam, aktivitas fisik 30 menit per hari, manajemen stres, pola makan sehat, dukungan sosial, dan bantuan profesional jika diperlukan
- Kualitas persahabatan lebih menentukan kesehatan mental remaja dibandingkan waktu yang dihabiskan di media sosial
Mood swings pada remaja adalah fenomena umum yang dapat diatasi dengan pemahaman yang tepat dan pendekatan komprehensif. Kesehatan mental remaja bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dengan meningkatkan kesadaran, mengurangi stigma, dan menyediakan akses ke layanan kesehatan mental yang berkualitas, kita dapat membantu generasi muda Indonesia mencapai potensi terbaiknya.
Jika Anda atau remaja di sekitar Anda mengalami mood swings yang mengganggu, jangan ragu untuk mencari bantuan. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik, dan mendapatkan dukungan yang tepat adalah langkah pertama menuju kehidupan yang lebih seimbang dan bahagia.
Call to Action: Mari bersama-sama ciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental remaja. Bicarakan tentang kesehatan mental secara terbuka, kurangi stigma, dan dukung remaja di sekitar kita untuk mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan. Untuk konsultasi kesehatan mental, hubungi layanan konseling sekolah, psikolog, atau klinik kesehatan mental terdekat.
Tim Hawaii YCC – Spesialis Konten Youth Wellness, Lifestyle, dan Mental Health dengan pengalaman lebih dari 5 tahun dalam edukasi kesehatan mental remaja. Konten ini disusun berdasarkan riset terkini dari sumber-sumber terpercaya termasuk I-NAMHS, WHO, Kementerian Kesehatan RI, dan institusi akademik ternama di Indonesia.
Referensi dan Sumber Data
- Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, Universitas Gadjah Mada.ย
- GoodStats. (2024). “15,5 Juta Remaja Indonesia Mengalami Masalah Kesehatan Mental“.ย
- Universitas Airlangga. (2025). “Riset Kesehatan Mental Remaja Indonesia Terus Meningkat“.ย
- Universitas Alma Ata. (2024). “Mengatasi Perubahan Mood pada Remaja dengan Bijak“.ย
- Kementerian Kesehatan RI. (2024). “Pentingnya Kesehatan Mental bagi Remaja“.ย
- WHO Indonesia. (2024). “Mentransformasi Kesehatan Remaja: Laporan Komprehensif WHO“.ย
- Kompas.id. (2025). “Bagaimana Relasi antara Kesehatan Mental Remaja, Persahabatan, dan Media Sosial?”ย
- Rumah Sakit Akademik UGM. (2025). “Bulan Kesehatan Mental: Pentingkah Menjaga Kesehatan Mental Bagi Remaja?”ย
- Biofarma. “Menjaga Kesehatan Mental Remaja: Tantangan, Faktor Penyebab, dan Solusi“.ย
- Detik.com. (2024). “Survei: 17,9 Juta Remaja Indonesia Punya Masalah Mental“.ย
- Intan Husada: Jurnal Ilmiah Keperawatan. (2025). “Gambaran Kesehatan Mental pada Mahasiswa”. Vol. 13 No. 1.
- Nirmalawati, T. & Qurniyawati, E. (2025). “Mental Health of Adolescents in the Strawberry Generation: A Bibliometric Analysis”. Jurnal Promkes, 13(2), 250โ256.







